Pasrah

Pasrah Terkadang aral merintang panjang dan seperti tak berakhir, membuat langkah kaki terasa berat untuk terus maju, ingin menunggu tapi harus kah berakhir di titik yang sekarang, rasa cemas menghantui diri, serasa beban begitu berat dijalan yang tak berujung, Dikiri kanan beberapa orang berjalan dengan tenang namun ada yang berlari seakan diujung sana ada harapan menanti, ku pilih berhenti sejenak mengingat apa yang telah terlewati dibelakang sana, ada suka ada kepasrahan ada tawa namun lebih banyak kesedihan, Tetap berjalan dalam gontai, tak bersemangat mengikuti alur ini, pasrah, doa sudah terucapkan, usaha sudah terlaksana, namun belum ada jawaban dari doa, belum ada pembuktian dari usaha. Yah…hanya pasrah, menunggu roda berputar dan kehidupan kembali normal, yakinlah semua itu ada waktunya, hari ini mungkin belum tepat, besok mungkin belum miliki kita, lusa masih milik orang lain, tapi kelak tidak ada yang tahu, milik siapa. Pasrah hari ini, untuk sejenak beristirahat dalam diam, bukan tak bergerak, tapi otak terus berfikir, kapan waktu yang tepat untuk memulai start. Tak mungkin mereka tak lengah, tak mungkin mereka selalu kuat, tak mungkin mereka selalu bersemangat, ketika itu waktu ku tiba, roda membawaku keatas, untuk sukses. Hanya dalam kepasrahan, kita sebagai ciptaan ALLAH mengakui kelemahan diri, hanya dalam kepasrahan kita dapat menangis tulus dari hati, hanya dalam kepasrahan hati kembali bersih, karena dalam kepasrahan kita semakin dekat dengan yang MAHA KUASA. Terkait