Respon Najwa Shihab Saat Dengar Alasan Kemenpora Jadi Tersangka KPK

22

presenter Najwa Shihab tanyakan alasan penetapan status tersangka Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi kepada Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif.

Laode M Syarif Saat menjadi narasumber dalam program Mata Najwa berjudul ‘KPK: Kiamat Pemberantas Korupsi’, chanel YouTube Najwa Shihab, Kamis (19/9/2019).

Diketahui KPK tengah geram dengan pengesahan revisi UU KPK pada Selasa (17/9/2019) oleh DPR RI dan pemerintah.

Dan pada Rabu (18/9/2019), Imam Nahrawi ditetapkan oleh KPK menjadi tersangka kasus dugaan suap Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kepada Kemenpora terkait dana hibah Tahun Anggaran 2018.

Najwa Shihab lantas menanyakan alasan KPK menetapkan status Menpora apakah berkaitan dengan kekesalannya atas pengesahan revisi UU KPK.

“Ini serangan KPK last minute di injury time dengan menetapkan Menteri Olahraga sebagai tersangka?,” tanya Najwa Shihab kepada Laode.

Laode lantas membantah lantaran pengumuman status tersangka ini telah terjadi berminggu-minggu sebelumnya.

Pihaknya memilih menunda lantaran tak ingin disebut bermain politik dengan membalas dendam.

“Enggak, enggak, bahkan ini pengumumannya agak ditunda. Penetapannya sudah berapa minggu. Tapi ini kan enggak mau kita dipikir main politik gara-gara apa gitu. Karena disebut juga di setiap persidangan melibatkan apa, Ketua KONI, seperti itu,” katanya.

“Jadi sesungguhnya sudah beberapa minggu lalu, tapi KPK memutuskannya?,” tanya Najwa Shihab kembali.

Laode menyebut telah memutuskan status tersangka namun tak ingin ada keributan jika di waktu yang salah saat mengumumkan.

“Jadi itu maksudnya sudah diberikan surat tersangkanya tapi kalau diumumkan waktu ribut-ribut kemarin nanti dibilang ‘KPK sok-sokan’,” sebutnya.

“Kalau sekarang disebut sok-sokan juga?,” tanya Najwa Shihab.

“Enggak, enggak karena sudah berjalan sudah disebut di persidangan berkali-kali,”jawab Laode.

“Jadi sama sekali tidak ada niatan politik di sini?,” sebut Najwa Shihab.

Laode lantas menyebutkan bahwa Staf pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Miftahul Ulum telah lebih dulu diproses.

Sehingga ditegaskannya ini hanya proses biasa.

“Enggak ada, bahkan yang membantu dia di sana sudah ditahan KPK. Yang staf ahlinya, enggak ada sama sekali. Ini hanya normal proses biasa?,” pungkasnya.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menyebut Imam Nahrawi diduga menerima uang pelicin senilai Rp 26,5 milliar dari sejumlah pejabat KONI.

Uang pelicin itu ditujukan agar dana hibah dapat segera cair.

“Dugaan total Rp 26,5 miliar tersebut diduga merupakan commitmen fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan KONI kepada Kemenpora Tahun Anggaran 2018,” ungkap Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung KPK, Rabu (18/9/2019).

Alexander Marwata kemudian merinci uang pelicin itu diterima dalam dua gelombang.

Yang pertama pada rentang 2014-2018 senilai Rp 14,7 miliar melalui staf pribadinya, Miftahul Ulum yang kini juga menjadi tersangka.

Sedangkan yang kedua pada rentang waktu 2016-2018, Imam Nahrawi diduga meminta uang senilai Rp 11,8 miliar kepdaa pejabat KONI.

Alexander Marwata menyebut uang itu digunakan untuk kepentingan pribadi Imam Nahrawi.

Uang tersebut dicurigai digunakan untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak lain yang terkait,” terang Alexander Marwata.

Lebih lanjut, Alexander Marwata menyebut pejabat KONI dan Imam Nahrawi diduga sudah kongkalingkong soal besaran alokasi fee dari proposal dana hibah yang diajukan KONI.

Dicurigai Telah ada kesepakatan antara pihak Kementrian pemuda dan olahraga dan Komite olahraga nasional Indonesia (KONI) untuk mengalokasikan fee sebesar 19,13 persen dari total dana hibah Rp 17,9 miliar, yaitu Rp 3,4 miliar,” jelas Alexander Marwata.

Sebelum Imam Nahrawi ditetapkan tersangka, KPK sudah menetapkan enam tersangka dalam kasus ini.

Dan Mereka adalah Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy, Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy, dua staf Kemenpora Adhi Purnomo dan Eko Triyanto, dan Mantan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana.